Kemampuan Awal Peserta Didik | Definisi, Manfaat, Dan Cara Identifikasi

kemampuan awal manfaat identifikasi  ppg simpkb
A. Definisi Kemampuan awal yaitu merupakan hasil belajar yang didapat sebelum mendapat kemampuan yang lebih tinggi, yang meliputi, pengetahuan, ketrampilan, pengalaman, dan perilaku. Di SMK kemampuan awal digali dari awal masuk sekolah, tes minat bakat , psikotes, nilai UN dan raport SMP .

Kemudian di dalam proses pembelajaran vokasional, pengetahuan awal berfungsi sebagai kategori label yang mempengaruhi informasi baru untuk ditambahkan ke pengetahuan struktur yang sudah ada contohnya peserta didik yang akan belajar tentang kompetensi hidrolik, maka mereka perlu diukur pengetahuan fisikanya (yang berkaitan dengan hidrolik) . Pengetahuan awal juga berfungsi sebagai konteks asimilasi di mana materi baru akan saling berkaitan, sehingga akan lebih mudah mengkonstruksi pengetahuan melalui proses elaborasi, dan pengaktifan pengetahuan awal dapat meningkatkan akses pengetahuan selama proses pembelajaran. Misalkan, apabila siswa akan belajar tentang sistem rem, maka siswa seharusnya memiliki kemampuan awal tentang pekerjaan dasar teknik otomotif dan sistem hidrolik. Jadi, dapat dinyatakan pengetahuan awal adalah pengetahuan yang dibangun oleh siswa sebelum proses pembelajaran untuk membangun suatu pengetahuan dan kemampuan tertentu. Begitulah pendapat dari salah salah satu narasumber kami, seorang ibu guru SMK di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, selanjutnya kita bahas penilaian awal dan rencana belajar.

Penilaian Awal

• Semua peserta didik harus menjalani periode penilaian awal, yang tujuannya adalah untuk mengidentifikasi pembelajaran dan kebutuhan dukungan mereka.

• Identifikasi kebutuhan pembelajar dan dukungan pembelajar sangat penting karena itu merupakan tahap pertama dalam siklus pembelajaran dan yang menjadi dasar semua tahap lainnya.

• Pelajar berada di pusat proses pembelajaran dan perlu dilibatkan sepenuhnya dalam proses penilaian awal dan pengembangan rencana pembelajaran mereka. Adalah penting bahwa mereka merasa bahwa dilakukan dengan mereka dan bukan untuk mereka.

• Penilaian awal melibatkan pengumpulan berbagai informasi untuk membentuk gambaran yang koheren dari individu tersebut. Informasi ini harus digunakan untuk menempatkan mereka pada program pembelajaran pra-kejuruan atau kejuruan yang sesuai yang sesuai dengan keterampilan, pengetahuan dan kemampuan mereka, di bidang pekerjaan yang sesuai dan untuk menyusun rencana pembelajaran yang memenuhi kebutuhan masing-masing.

• Ada sejumlah metode penilaian awal yang tersedia. Adalah untuk penyedia pelatihan untuk menentukan metode mana yang paling tepat bagi peserta didik mereka untuk membentuk gambaran yang komprehensif tentang kebutuhan belajar dan dukungan mereka. Metode yang berbeda mungkin sesuai untuk bidang pekerjaan yang berbeda. Tidak dapat diterima bahwa penilaian awal lebih menyeluruh di beberapa bidang daripada yang lain.

• Tanggung jawab untuk melakukan penilaian awal peserta didik terletak pada penyedia. Organisasi dan lembaga lain tempat penyedia layanan bekerja, termasuk pemberi kerja, mungkin berada dalam posisi untuk memberikan informasi yang relevan terkait dengan pembelajaran dan mendukung kebutuhan peserta didik.

Rencana Belajar

• Setiap pelajar harus memiliki rencana pembelajaran yang merinci pelatihan dan dukungan yang akan mereka terima untuk membantu mereka memenuhi program pembelajaran mereka dan bagaimana tujuan akan dicapai.

• Rencana pembelajaran individu harus dirancang secara terpisah untuk setiap pelajar. Majikan, pelajar dan pelatih semuanya terlibat dalam pembuatan rencana.

• Rencana pembelajaran harus mencakup informasi tentang pelajar, program pembelajaran mereka, tujuan pembelajaran mereka, hasil penilaian awal, pelatihan induksi, pelatihan di dalam dan di luar pekerjaan, ulasan program, penilaian dan pengaturan dukungan tambahan.

• Rencana pembelajaran yang efektif digunakan secara teratur sebagai dokumen kerja yang merujuk pelajar, pengawas tempat kerja dan pelatih secara teratur. Ini ditinjau dan direvisi untuk mencerminkan peningkatan kemampuan peserta didik dan perubahan kebutuhan belajar.

• Kemungkinan rencana pembelajaran akan cukup terperinci dalam jangka pendek, misalnya 3-6 bulan ke depan, dan lebih banyak garis besar untuk jangka panjang.

• Rencana pembelajaran dapat ditulis dalam bentuk tunggal atau dapat terdiri dari beberapa bagian terpisah dalam format yang berbeda.

B. Manfaat Mengetahui Kemampuan Awal
Harris (2000: 1) mengemukakan bahwa diagnosis kemampuan awal (recognition of prior learning) merupakan salah satu variabel penting dalam penentuan proses pembelajaran. Lebih lanjut dikatakan bahwa “the recognition of prior learning (RPL) refers to practice developed within education and training to identify and recognise adults pevious learning. The broad principle is that previous learning –acquired informally, non-formally, experientally or formally- can and should be recognised and given currency within formal education and training framework”. Dalam hal ini, diagnosis kemampuan awal perlu dilakukan untuk mengetahui pengetahuan atau pembelajaran yang telah diperoleh oleh peserta didik baik secara formal maupun tidak formal. Pengetahuan akan

kemampuan awal tersebut perlu diidentifikasi agar proses pembelajaran dapat selaras antara guru dengan peserta didik.

Manfaat dari mengenali pembelajaran sebelumnya

1. Memfasilitasi akses untuk siswa 'non-tradisional' - orang yang mungkin tidak memiliki kesempatan untuk belajar lebih lanjut.

2. Mengakui nilai pembelajaran di luar pengaturan formal, misalnya  menghargai dan mengakui pembelajaran di tempat kerja.

3. Memvalidasi nilai pembelajaran yang telah dicapai siswa sendiri

4. Memungkinkan siswa untuk maju ke program pendidikan dan pelatihan lainnya

5. Menghilangkan pengulangan yang tidak perlu dan duplikasi materi yang sudah akrab bagi siswa.

6. Mempersingkat waktu yang diperlukan untuk mendapatkan kualifikasi - ini memotivasi siswa yang mungkin berkecil hati dengan lamanya waktu yang diperlukan untuk

menyelesaikan kursus tingkat perguruan tinggi atau program studi tertentu.

7. Meningkatkan kebanggaan dan harga diri siswa untuk apa yang telah mereka capai sebagai pelajar.

8. Meningkatkan persepsi dan pemahaman siswa tentang belajar sebagai proses seumur hidup.

C. Identifikasi Kemampuan awal

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Menurut Al-Barry, karakter bermakna hampir sama dengan sifat-sifat bawaan, watak, kepribadian, kebiasaan. Sementara yang dimaksud karakteristik adalah ciri-ciri khusus, corak tingkah laku. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).
Ron Kurtus dalam irfarazak.ngeblogs.com berpendapat bahwa karakter adalah satu set tingkah laku atau perilaku (behavior) dari seseorang sehingga dari perilakunya tersebut, orang akan mengenalnya “ia seperti apa”. Menurutnya, karakter akan menentukan kemampuan seseorang untuk mencapai cita-citanya dengan efektif, kemampuan untuk berlaku jujur dan berterus terang kepada orang lain serta kemampuan untuk taat terhadap tata tertib dan aturan yang ada.
Sedangkan menurut Havinghuerst dalam Oemar Hamalik: 2009, yang dimaksud dengan karakter adalah suatu perangkat (set) yang terdiri dari lima karakter. Setiap karakter merupakan suatu presentasi dari tingkat perkembangan psikososial individu sebagai berikut :

Tipe karakter                          Periode perkembangan
1.    Amoral                                Infancy
2.    Expedent                             Early chilhood
3.    Conforming                        Later chilhood
4.    Irrational-conscientious      Adolescence and adulthood
5.    Rational-altruistic
Kendatipun bisa jadi seseorang memiliki tipe murni akan tetapi dalam praktiknya proporsi kelima kategori tersebut bersifat relatif bagi setiap orang.
Kata "karakter" berasal dari kata Yunani: charakt√™r. Semula digunakan tanda terkesan atas koin. Ada pula yang memaknai berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.
Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).
Karakter seseorang baik disengaja atau tidak, didapatkan dari orang lain yang sering berada didekatnya atau yang sering mempengaruhinya, kemudian ia mulai meniru untuk melakukannya. Oleh karena itu, seorang anak yang masih polos seringkali akan mengikuti tingkah laku orang tuanya atau teman mainnya, bahkan pengasuhnya. Erat kaitan dengan masalah ini, seorang psikolog berpendapat bahwa karakter berbeda dengan kepribadian, karena kepribadian merupakan sifat yang dibawa sejak lahir dengan kata lain kepribadian bersifat genetis.
Dalam hal ini ada empat indentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa, yaitu :

1. Kemampuan Dasar.
2. Latar belakang pengalaman.
3. Latar belakang sosial.
4. Perbedaan individual.

Adapaun perilaku belajar siswa menurut Gagne dikelompokkan ke dalam delapan kelas yaitu :
1.  Signal learning (belajar isyarat). Dalam jenis ini siswa mendapat respon terkondisi terhadap signal tertentu.
2. Stimulus-Respon learning. Menurut Gagne proses belajar bahasa pada anak-anak merupakan proses yang serupa dengan ini. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini ialah faktor inforcement.
3.  Chaining (mempertautkan).
4.  Verbal Association. Tipe belajar 3 dan 4 ini setaraf, yaitu belajar-mengajar menghubungkan S-R yang satu dengan yang lain. Kondisi yang diperlukan untuk tipe belajar ini antara lain, secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah satuan pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal. Selain itu prinsip kesinambungan, pengulangan dan reinforcement tetap penting.
5. Discrimination learning atau belajar mengadakan pembeda. Dalam tipe ini peserta didik mengadakan seleksi dan pengujian di antara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya, kemudian memilih pola-pola respon yang dianggap paling sesuai.
6. Concept learning atau belajar pengertian. Dengan berdasarkan kesamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan objek-objeknya, ia membentuk suatu pengertian atau konsep kondisi utama yang diperlukan adalah menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya.
7.  Rule learning, atau belajar membuat generalisasi, hukum, dan kaidah. Pada tingkat ini siswa belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (induktif, deduktif, analisis, sistesis, asosiasi, diferensiasi, komparasi, dan kausalitas) sehingga anak didik dapat menemukan konklusi tertentu yang mungkin selanjutnya dapat dipandang sebagai rule: prinsip, dalil, aturan, hukum, kaidah dan sebagainya.
8.  Problem Solving yakni belajar memecahkan masalah. Pada siswa belajar merumuskan dan memecahkan masalah, merespon terhadap rangsangan yang menggambarkan atau situasi problematik, yang mempergunakan berbagai kaidah yang telah dikuasainya.


Teknik untuk mengidentifikasi perilaku awal siswa adalah dengan menggunakan kuesioner, interviu, observasi dan tes (pretest). Subjek yang memberikan insformasi diminta untuk mengidentifikasi tingkat pengusaan siswa dalam setiap perilaku khusus melalui skala penilaian (rating scales).

Sekian, semoga yang sedang kegiatan  ppg | simpkb dapat terbantu

0 Response to "Kemampuan Awal Peserta Didik | Definisi, Manfaat, Dan Cara Identifikasi "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel