1 Ramadhan Kita Puasa - Perang Dengan CoronaVirus Pada Titik Puncak

1 ramadan 2020

Belum ada keputusan resmi dari Pemerintah Republik Indonesia kapan 1 Ramadhan tahun 2020, namun PP Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1441 H jatuh pada hari Jumat, tanggal 24 April 2020. Sementara Idul Fitri 1441 H ditetapkan jatuh pada 24 Mei 2020. Pemerintah masih akan mengadakan sidang isbat dan melakukan pantuan hilal di seluruh penjuru tanah air, seperti biasanya.

Mudah-mudahan sama dan kompak di seluruh dunia dalam menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal, namun yang terpenting adalah menjaga kerukunan. CoronaVirus diprediksi masih akan menghantui di bulan April, artinya kita masih dalam keagaan penuh, walaupun mulai masuk bulan suci Ramadhan.

Lalu apakah ada hubungan antara ibadah puasa dengan kekeban tubuh? Sebenarnya kami tidak berhak untuk menetapkan boleh atau tidaknya puasa, namun kami menyatakan, dari riset yang sudah ada, ibadah puasa tidak mengurangi kekebalan tubuh. Kecuali hanya sedikit atau bahkan sebaliknya, karena di bulan Ramadhan justru kami lebih bergaya hidup sehat.

Mari kita perhatikan studi empiris berikut ini:

Artikel 

Dari penelitian tersebut, yang diterbitkan 27 November 2017, Karena puasa Ramadhan memengaruhi sistem tubuh yang berbeda, yang sangat menarik adalah pengaruh puasa pada sistem kekebalan tubuh, yang memainkan peran penting dalam mengatur dan mempertahankan respons tubuh terhadap peristiwa yang menimbulkan stres dan berbahaya. Pengaruh ini dapat menjelaskan status kekebalan orang yang berpuasa. Relevansi klinis dari topik tersebut berasal dari kenyataan bahwa, di dunia globalisasi, dokter mana pun dapat menghadapi masalah dalam mengelola pasien yang memilih untuk puasa Ramadhan dan memantau status kekebalan mereka. Namun, tidak ada pedoman atau protokol yang menyediakan panduan menuju pendekatan yang disesuaikan dengan pasien.

Tujuan dari tinjauan disitu adalah untuk mengisi kesenjangan ini dalam pengetahuan, memberikan wawasan tentang kemungkinan pengaruh puasa Ramadhan pada sistem kekebalan tubuh.

Seperti yang kita tahu, seorang muslim yang taat akan tetap berpuasa di bulan Ramadhan, karena kenikmatan berpuasa yang sangat besar bagi mereka. Tidak makan, tidak minum, tidak merokok, tidak melakukan hubungan seksual di waktu puasa, menjaga sikap dan sebagainya. Terkadang membuat heran, karena dilakukan dengan situasi yang terlihat kurang menguntungkan. Contohnya dalam kondisi sakit, kondisi hamil, berpergian, bekerja yang menggunakan fisik, cuaca panas atau dingan bahkan beberapa atlit masih juga berpuasa, walaupun mereka sedang bertanding.

Lalu bagaimana kita menyikapi virus corona? Apakah tetap puasa? Selama tidak sakit parah, tetap puasa. Justru dengan berpuasa, kita akan semakin kuat, semakin sehat, karena makan-makanan bergizi, lengkap, dan seimbang, meskipun hanya malam hari, ketimbang hari biasa yang banyak ngawurnya. Kondisi mental juga bagus, tentu lebih fokus, tenang, dan terkendali, karena lebih dekat dengan Tuhan. Plus ditambah lebih bersih, karena orang puasa lebih banyak shalat, lebih banyak wudhu. Tidur juga teratur dan cukup

Dari Penitian di atas, mereka menyimpulkan:

  1. Puasa Ramadhan telah terbukti hanya sedikit mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, dan perubahannya bersifat sementara dan kembali ke status basal sebelum Ramadhan.
  2. Puasa Ramadhan selama trimester kedua kehamilan terbukti aman dan tidak menghasilkan hasil janin negatif atau perubahan status oksidatif ibu.
  3. Pada pasien jantung, puasa Ramadhan dapat memiliki efek menguntungkan termasuk peningkatan profil lipid dan pengurangan stres oksidatif.
  4. Pada pasien asma, puasa Ramadhan tidak mengubah parameter imunologis.
  5. Pada pasien HIV, Ramadhan terbukti aman.
  6. Pada pasien dengan skizofrenia, Ramadhan dapat meningkatkan penanda imunologis.
  7. Pada pasien dengan gangguan autoimun, Ramadhan umumnya aman.
  8. Atlet puasa yang mempertahankan jadwal pelatihan intensif menunjukkan fluktuasi penanda imunologis.
Silahkan dibaca artikelnya samapi tuntas, dan penelitian tersebut, sudah dijadikan rujukan, beberapa penelitian lainnya.

Jadi, walaupun coronavirus mengancam, kita tetap puasa, bahkan jika sudah terjangkit covid-19, tidak ada salahnya berpuasa, asal tidak dilarang oleh dokter. Yang perlu diwaspadai adalah berkumpulnya masa, tentu ini kontroversial, namun keselamatan bersama lebih penting. Kita masih perlu musyawarah bersama, antara Pemerintah sebagai penanggung jawab utama dan Para Ulama, dan Jamaah sekalian, supaya mendapatkan solusi mengenai social gathering di bulan Ramadhan. Kemudian tradisi mudik yang menjadi kebiasaan jelang 1 Syawal. Sepetinya kalau mudik sementara ditunda dulu, untuk mengurangi resiko. 

Untuk ibadah puasanya tetap seperti biasa ya, malah bagus, jangan bolong ya gaes.  
lawan virus corona
lawan virus corona Siaga Virus Corona

Berlangganan via Email