13 Hoax CoronaVirus - No 9 Jokowi Mestinya Tahu dari Kemaren.

13 Hoax CoronaVirus - Lawan Corona

Ketika novel coronavirus terus menginfeksi orang di seluruh dunia, artikel berita dan posting media sosial tentang wabah ini terus menyebar secara online. Rupanya, wabah coronavirus juga diikuti oleh wabah HOAX.

“Two things are infinite: the universe and human stupidity; and I'm not sure about the universe."
Albert Einstein

Kami berusaha mati-matian mencari dan menyaring untuk memberitakan update corona, eh koq masih banyak makhluk-makhluk diluar sana yang dengan sengaja dan tidak bertanggung jawab menyebarkan berita abu-abu atau sudah diketahui kengubilannya dengan pasti. Untuk itu mari kita proteksi diri kita dari wabah hoax ini. Kami sudah susun daftar hoax oronavirus novel SARS-CoV-2 dan COVID-19, penyakit yang ditimbulkannya, dan menjelaskan mengapa rumor ini menyesatkan, atau faktanya salah , mari kita basmi sama-sama:

Hoax 1: Masker wajah dapat melindungi kita dari virus
Hoax Virus Corona


Masker bedah standar tidak dapat melindungi Anda dari virus corona, karena mereka tidak dirancang untuk memblokir partikel virus dan tidak membilas wajah, Kami sebelumnya sudah berdebat tentang ini di forum Facebook, dan di Youtube, kami menyimpulkan: masker bedah dapat membantu mencegah orang yang terinfeksi menyebarkan virus lebih lanjut dengan memblokir tetesan pernapasan yang bisa dikeluarkan dari mulut mereka, tapi juga jangan salah kaprah, kalo ada kesempatan, pakailah masker, apa salahnya memakai masker? Kami biasa memakai masker jauh sebelum era corona ini melanda. Ngaco yang melarang memakai masker, sama ngacoknya dengan yang jual masker ini dengan harga mahal.

Memang ada masker khusus yang biasa dipakai di fasilitas perawatan kesehatan, respirator khusus yang disebut "Masker N95" telah terbukti sangat mengurangi penyebaran virus di antara staf medis. Orang-orang memerlukan pelatihan untuk memasang respirator N95 di sekitar hidung, pipi, dan dagu mereka untuk memastikan tidak ada udara yang menyelinap di sekitar tepi topeng; dan pemakai juga harus belajar memeriksa kerusakan pada peralatan setelah setiap kali digunakan. Untuk anak-anak, sepertinya perlu penyesuaian lagi, karena tidak "fit".
Tidak perlu memborong produk masker ini, tenaga medis sangat membutuhkannya. Asal anda di rumah, anda tidak perlu memborong masker, kalaupun anda keluar rumah untuk sesuatu yang penting, pakailah masker baik dari kain atau apapun untuk mencegah debu, dan mencegah anda untuk menyentuh wajah

Hoax 2: Kita kemungkinan kecil terkena flu ini
Hoax Virus Corona


Virus ini lapar, tidak mengenal umur, suku bangsa dan apapun kondisi anda, 99,9 % tidak ada yang bisa terhindar darinya. Jadi jangan sampai bersentuhan dengan virus ini, bagaimana caranya? Diem di rumah jaga kekebalan tubuh, tingkatkan kebersihan, cuci tangan pakai sabun, tidak usah menerima tamu, dll.


Hoax 3: Virus hanyalah bentuk flu biasa yang termutasi
Hoax Virus Corona
Jelas bukan Coronavirus adalah keluarga besar virus yang mencakup banyak penyakit berbeda. SARS-CoV-2 memang memiliki kesamaan dengan virus corona lainnya, empat di antaranya dapat menyebabkan flu biasa (mungkin anda tertarik dengan virologi sampai sini?). Kelima virus memiliki proyeksi runcing pada permukaannya dan memanfaatkan apa yang disebut protein strain untuk menginfeksi sel inang. Namun, keempat virus corona dingin - bernama 229E, NL63, OC43 dan HKU1 - semuanya memanfaatkan manusia sebagai host utama mereka. SARS-CoV-2 berbagi sekitar 90% dari materi genetiknya dengan coronavirus yang menginfeksi kelelawar, yang menunjukkan bahwa virus tersebut berasal dari kelelawar dan kemudian melompat ke manusia.

Bukti menunjukkan bahwa virus melewati hewan perantara sebelum menginfeksi manusia. Demikian pula, virus SARS melompat dari kelelawar ke musang (mamalia kecil, nokturnal) dalam  perjalanannya ke manusia, sedangkan MERS menginfeksi unta sebelum menyebar ke manusia. Hewan bernama Pangolins di duga kuat asal mula virus korona ini.

Hoax 4: Virus dibuat di laboratorium  oleh Cina
Hoax Virus Corona


Sampai saat ini hoax. SARS-CoV-2 sangat mirip dengan dua coronavirus lain yang telah memicu wabah dalam beberapa dekade terakhir, SARS-CoV dan MERS-CoV, dan ketiga virus tersebut tampaknya berasal dari kelelawar. Singkatnya, karakteristik SARS-CoV-2 sejalan dengan apa yang kita ketahui tentang coronavirus alami lainnya yang membuat lompatan dari hewan ke manusia.
Dugaan kuat Virus korona yang melompat berasal dari pangolins yang di jual di pasar hewan liar Wuhan, China. Bisa jadi sebelumnya adalah virus korona kelelawar yang melompat ke paladins dan bermutasi, bentuk baru, kemudian melompat lagi ke manusia di pasar Wuhan, dan bermutasi lagi, sampai pandemi.

Hoax 5: Mendapatkan COVID-19 adalah hukuman mati
Hoax Virus Corona


Nope. Sekitar 81% orang yang terinfeksi virus corona memiliki kasus COVID-19 yang ringan. Sekitar 13,8% memang terkena penyakit parah, yang berarti mereka sesak napas, atau membutuhkan oksigen tambahan, dan sekitar 4,7% kritis, yang berarti mereka menghadapi kegagalan pernapasan, kegagalan multi-organ atau syok septik. Data sejauh ini menunjukkan bahwa hanya sekitar 2,3% orang yang terinfeksi COVID-19 meninggal akibat virus. Orang-orang yang lebih tua atau memiliki kondisi kesehatan yang mendasarinya tampaknya paling berisiko mengalami penyakit parah atau komplikasi. Meskipun tidak perlu panik, orang harus mengambil langkah-langkah untuk mempersiapkan dan melindungi diri mereka sendiri dan orang lain dari virus corona baru. Jadi sampai sini, tidak boleh panik, tetapi tidak meremehkan. Apalagi fasilitas di Indonesia masih jauh dari layak, rakyat jelata model kita, ndak usah nekad, ngerapek.

Hoax 6: Hewan peliharaan dapat menyebarkan coronavirus baru
Hoax Virus Corona


Belum ada bukti, beberapa anjing dan kucing dinyatakan positif terkena virus serupa, SARS-CoV, Saat wabah pada tahun 2003, pakar kesehatan hewan Vanessa Barrs dari City University mengatakan "Pengalaman sebelumnya dengan SARS menunjukkan bahwa kucing dan anjing tidak akan menjadi sakit atau menularkan virus ke manusia," katanya. "Yang penting, tidak ada bukti penularan virus dari anjing peliharaan atau kucing ke manusia."


Hoax 7: Lockdown tidak akan terjadi di Indonesia
Hoax Virus Corona

Tidak ada jaminan, kami sangat menyayangkan sikap pemerintah (khususnya Jokowi dan Terawan) yang tidak menutup rapat-rapat pintu perbatasan, disaat ada kesempatan. Jadi sekarang betul-betul random, seperti jackpot atau russian rullet. Padahal jika Januari atau paling tidak februari kita menutup diri dari dunia luar. Maka kita dapat eksklusifitas dan segala macam fantasi negara mandiri, tanpa tergantung terutama dari negara bernama RRC, kita bisa menghebohkan diri dan memutuskan ketergantungan perdagangan, terutama impor dan ekspor barang mentah. Seperti yang RRC lakukan dengan memblokir produk Google dan lainnya, mereka ada kemajuan signifikan, terutama di bidang IT. Kita bisa meniru langkah itu, dengan menghebohkan coronavirus, menutup perbatasan, membuat barang-barang kebutuhan kita secara mandiri, mungkin sakit awalnya. Tapi kedepan kami yakin kita akan jauh lebih maju. Kita sekarang dalam fasa semi lockdown, sekolah mulai libur, tetapi tidak tahu kedepan. Kami berharap kemaren sebelum ada yang confirm positif, kita sudah mengisolasi negara kita. Untuk apa repot-repot menerima WNA dengan memeriksa dan lain-lain (kecuali mereka karantina mandiri bayar 1 miliar misalnya). Mungkin jika WNI yang mau pulang, dikarantina dulu.

Jika dimungkinkan kita bisa membentuk serikat negara bebas coronavirus dan masih dimungkinkan untuk saling menjaga satu sama lain dan saling berkunjung, kemewahan menurut kami.

Kalo menyewa influencer yang dibayar 72 miliar untuk menarik pariwisata, jelas ada ketidak beresan.

Hoax 8: Anak-anak tidak dapat tertular virus corona
Hoax Virus Corona


Anak-anak pasti dapat terkena COVID-19, meskipun laporan awal menyarankan lebih sedikit kasus pada anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak-anak lebih mungkin terinfeksi. Dalam sebuah penelitian yang dilaporkan 5 Maret, para peneliti menganalisis data dari lebih dari 1.500 orang di Shenzhen, dan menemukan bahwa anak-anak yang berpotensi terkena virus itu sama mungkin terinfeksi seperti orang dewasa, menurut Nature News. Terlepas dari usia, sekitar 7% hingga 8% dari kontak kasus COVID-19 kemudian dinyatakan positif virus.

Namun, ketika anak-anak menjadi terinfeksi, sakit yang mereka alami tergolong tidak parah. Tapi yang terpenting berilah edukasi kepada anak-anak tentang virus corona ini.

Ingat virus ini tidak peduli, daya sebarnya luar biasa.

Hoax 9: Jika Kita terinfeksi Virus Corona, Kita pasti tau, kan ada gejala-gejalanya!
Hoax Virus Corona


Sayangnya tidak. COVID-19 menyebabkan berbagai gejala, banyak di antaranya muncul pada penyakit pernapasan lainnya seperti flu dan pilek. Secara khusus, gejala umum COVID-19 termasuk demam, batuk dan kesulitan bernapas, dan gejala yang lebih jarang termasuk pusing, mual, muntah dan pilek. Dalam kasus yang parah, penyakit ini dapat berkembang menjadi penyakit seperti radang paru-paru yang serius - pak Jokowi,  pada awalnya, orang yang terinfeksi mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali! itu ente pasang thermal tes untuk apa? mestinya nggak usah disuruh masuk, gitu aja, koq repot.


Hoax 10: Virus korona tidak begitu mematikan dibandingkan influenza.
Hoax Virus Corona


COVID-19 memiliki tingkat kematian lebih dari 20 kali lebih tinggi, sekitar 2,3%, menurut sebuah studi yang diterbitkan 18 Februari oleh China CDC Weekly. Tingkat kematian bervariasi oleh berbagai faktor seperti lokasi dan usia seseorang, menurut laporan Sains Langsung sebelumnya.

Tetapi angka-angka ini terus berkembang dan mungkin tidak mewakili tingkat kematian yang sebenarnya. Tidak jelas apakah kasusnya diperhitungkandi Cina secara akurat didokumentasikan, terutama karena mereka mengubah cara mereka mendefinisikan kasus di tengah jalan, menurut STAT News. Mungkin ada banyak kasus ringan atau tanpa gejala yang tidak dihitung dalam ukuran sampel total, catat mereka.

Influenza mematikan, ketika pandemi influenza terjadi, fasilitas kesehatan tidak sebagus sekarang. Virus Wuhan ini akan meluluh lantakkan Indonesia, dan jauh lebih mematikan ketimbang Influenza. Jika melihat kesiapan kita saat ini. Death rate kita cukup tinggi.

Hoax 11: Suplemen vitamin C menyebabkan kita kebal dari  COVID-19.
Hoax Virus Corona

Para peneliti belum menemukan bukti bahwa suplemen vitamin C dapat membuat orang kebal terhadap infeksi COVID-19. Faktanya, bagi kebanyakan orang, mengonsumsi vitamin C tambahan bahkan tidak menangkal pilek, meskipun itu dapat mempersingkat durasi pilek jika Anda mengalaminya. Yang mengatakan, vitamin C berperan penting dalam tubuh manusia dan mendukung fungsi kekebalan tubuh yang normal. Sebagai antioksidan, vitamin menetralkan partikel bermuatan yang disebut radikal bebas yang dapat merusak jaringan di dalam tubuh. Ini juga membantu tubuh mensintesis hormon, membangun kolagen dan menutup jaringan ikat yang rentan terhadap patogen.

Jadi ya, benar tetap konsumsi vitamin C, gaya hidup sehat dong. Tetapi jika anda mengkonsumsi MEGADOSIS Vitamin C tidak akan menurunkan risiko terkena COVID-19. Berhati-hatilah terhadap produk yang di-KLAIM sebagai perawatan atau pengobatan untuk virus corona baru.


Hoax 12: Tidak aman menerima paket dari China. 
Hoax Virus Corona


Aman koq, yang didalam paket, menerima surat atau paket dari Cina, menurut WHO. Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa coronavirus tidak bertahan lama pada objek seperti surat dan paket. Berdasarkan apa yang kita ketahui tentang coronavirus serupa seperti MERS-CoV dan SARS-CoV, mereka tidak bertahan lama di DALAM paket atau surat. Apalagi juga lama sekali sampainya, kami pernah hampir 3 bulan menunggu.

Sebuah studi terdahulu menemukan bahwa coronavirus yang terkait ini dapat bertahan di permukaan seperti logam, kaca atau plastik selama sembilan hari, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan 6 Februari di The Journal of Hospital Infection. Tetapi permukaan yang ada dalam kemasan tidak ideal untuk virus untuk bertahan hidup. Agar virus dapat tetap hidup, diperlukan kombinasi kondisi lingkungan spesifik seperti suhu, kurangnya paparan UV dan kelembaban - kombinasi yang tidak akan di dapatkan dalam paket pengiriman.

Oh ya apapun itu, mulai dari sekarang budayakan cuci tangan, dan milikilah hand sanitizer. Tapi cuci tangan dengan sabun yang utama. Tidak ada alasan lagi, ini adalah cara yang mudah, kurangi kegiatan berkumpul dan budayakan cuci tangan.


Hoax 13: Merokok dan atau Vape Dapat Terhindar dari coronavirus.
Hoax Virus Corona

Justru sebaliknya, anda mempersilahkan virus ini untuk hidup di paru-paru anda, yang meningkatkan kemungkinan anda untuk mati. Rokok dan Vape dapat membuat iritasi, termasuk pod system. Team kami ada beberapa yang sudah mencoba rokok vape dan pod, semua dapat membuat tenggorakan, dan paru-paru anda menjadi kurang sehat.
Jadi kalau anda butuh alasan kuat  untuk berhenti merokok atau vape, inilah saatnya, agar tidak mati


Ok sekian dulu, tetap waspada, di rumaha saja, pantau perkembangan wabah ini, dan mari kita LAWAN CORONA VIRUS !
#covid-19 #coronaupdate #lawancorona yg ngeremeh #ngerapek
lawan virus corona
lawan virus corona Siaga Virus Corona

No comments for "13 Hoax CoronaVirus - No 9 Jokowi Mestinya Tahu dari Kemaren."

Berlangganan via Email