Jangan Bingung SARS-CoV-2 Nama Virus - COVID-19 Nama Penyakit


COVID-19
image: unsplash

Masih banyak yang belum tahu, menganggap sama, atau bahkan terbalik, kami jelaskan penamaan ini, dari yang paling berwenang yaitu WHO, singkatan dari World Health Organitation, Lembaga kesehatan dunia PBB. WHO memberi nama penyakit ini COVID-19 dan virus yang menyebabkannya adalah SARS-CoV-2.

Penyakit:

coronavirus disease 
(COVID-19)

Virus 
severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 
(SARS-CoV-2)

Atau biar tidak terlalu ribet bisa kita pakai istilah novel coronavirus, tetapi nama penyakitnya adalah COVID-19.


Mengapa virus dan penyakitnya memiliki nama yang berbeda?

Virus, dan penyakit yang disebabkannya, seringkali memiliki nama yang berbeda. Misalnya, HIV adalah virus, yang menyebabkan AIDS, jadi orang mengidap sakit AIDS, yang disebabkan oleh virus HIV. Kita tau sakit campak, yang heboh dan kontroversial karena vaksinasi haram, yaitu virus rubela.

Dalam penamaannya, suatu penyakit dan penyebabnya ada tahapan-tahapan.

Virus diberi nama berdasarkan struktur genetiknya untuk memfasilitasi pengembangan tes diagnostik, vaksin, dan obat-obatan. Ahli virologi dan komunitas ilmiah yang lebih luas melakukan pekerjaan ini, sehingga virus dinamai oleh Komite Internasional tentang Taksonomi Virus (ICTV/ International Committee on Taxonomy of Viruses).

Penyakit diberi nama untuk memungkinkan diskusi tentang pencegahan, penyebaran, penyebaran penyakit, keparahan penyakit dan pengobatan. Kesiapan dan respons penyakit manusia adalah peran WHO, sehingga penyakit secara resmi disebutkan oleh WHO dalam Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD/ International Classification of  Deseases).

ICTV mengumumkan "severe acute respiratory syndrome coronavirus 2  (SARS-CoV-2)" sebagai nama virus baru pada 11 Februari 2020. Nama ini dipilih karena virus tersebut secara genetik terkait dengan coronavirus yang bertanggung jawab atas wabah SARS tahun 2003. Walaupun terkait, kedua virus itu sebetulnya berbeda.

WHO mengumumkan "COVID-19" sebagai nama penyakit baru ini pada 11 Februari 2020, mengikuti pedoman yang sebelumnya dikembangkan dengan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Jadi mungkin wajar jika kita belum tau.

WHO dan ICTV berkomunikasi tentang penamaan virus dan penyakit tersebut.

Apa nama yang digunakan WHO untuk virus?

Dari perspektif komunikasi risiko, menggunakan nama SARS dapat memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan dalam hal menciptakan rasa takut yang tidak perlu untuk beberapa populasi/ komunitas, terutama di Asia yang paling parah terkena dampak wabah SARS pada tahun 2003. Beberapa jamaah hajipun ada juga yang terjangkit.

Untuk alasan itu dan lainnya, WHO telah mulai menyebut virus sebagai "virus yang bertanggung jawab untuk COVID-19" atau "virus COVID-19" ketika berkomunikasi dengan publik. Tak satu pun dari penunjukan ini dimaksudkan sebagai pengganti untuk nama resmi virus sebagaimana disetujui oleh ICTV.

Materi yang diterbitkan sebelum virus secara resmi dinamai tidak akan diperbarui kecuali diperlukan untuk menghindari kebingungan.

Jadi, dalam memilih Covid-19 sebagai nama penyakitnya, pemberi nama WHO menjauhkan diri dari menghubungkan wabah ke Cina atau kota Wuhan, di mana penyakit itu pertama kali diidentifikasi. Meskipun situs-situs asal telah digunakan di masa lalu untuk mengidentifikasi virus-virus baru, nama yang sama sekarang dipandang sebagai penghinaan. Beberapa ahli yang datang di awal akhirnya menyesal, telah mengidentifikasikan infeksi yang disebabkan oleh coronavirus yang sebetulnya berbeda dengan virus sebelumnya yaitu SARS-CoV, yang menyebabkan penyakit SARS.

Bingung? Para ahli tersebut terlambat menamakan virus dan penyakitnya, sehingga sempat timbul "rasisme" karena virus itu dinamakan virus wuhan sebelumnya. Tetapi penamaan baru dan resmi, yaitu SARS-CoV 2, juga menimbulkan masalah. Masih banyak yang menyamakan penanganan SARS-CoV (2003) dan SARS-CoV 2 (2019), akhirnya banyak korban timbul.

Seperti di Indonesia, yang punya kesempatan untuk memblokir virus ini dengan cara menutup perbatasan rapat-rapat, sampai putus mata rantai penyebaran. Dan mulai kehidupan mandiri, eksklusif untuk rakyatnya bebas coronavirus part 2. Namun perbatasan sudah kadung dibuka, mengandalkan uji suhu tubuh, seperti coronavirus part 1. Padahal SARS-CoV 2 kadang-kadang tanpa gejala apapun. Kan sudah diperingatkan sebelumnya dan fakta Wuhan yang sedemikian jelas las. Bahkan Saudi Arabia sebelumnya sudah menutup rapat perbatasan. Kini, orang-orang Indonesia harus banyak berdoa.

Sumber: WHO
lawan virus corona
lawan virus corona Siaga Virus Corona

Berlangganan via Email